
Sebuah pesan singkat aku tulis, “Nonton Twillight yu, film bagus loh itu!”. Beberapa jam kemudian sebuah balasan datang, “Wah, iya Aan, aku mau banget nonton itu. Besok pagi aku ke tempatmu, aku pengen maen, sama pengen sarapan bareng ditempatmu”. Aku tersenyum, seorang sahabat lama, yang sempat tinggal dihatiku, lama.
Malam itu, jam 22.00. Di kantor aku sudah mulai gelisah, pengen pulang, biar besok bisa bangun pagi, beres2 rumah, biar besok pas sahabat datang, rumahku udah ngga kaya kapal pecah.
Paginya, aku bangun jam 06.00 tepat. Beres rumah, sapu2, membuat biar semuanya nampak menyenangkan. Aku udah beli indomie goreng instan, lengkap dengan telur, karena kemarin dia bilang lagi pengen banget makan indomie goreng pake telor. Tiba-tiba sebuah pesan singkat datang, “Aan, aku berangkat nanti jam 8. Tar sore kalo udah beres aku kabari lagi”. Hmmm, ada yang janggal, koq nanti sore? Ya sudahlah, aku lanjutkan beres-beres dengan hati senang. Seorang sahabat istimewa akan datang.
Jam 09.00, aku mulai bertanya-tanya, koq belum datang juga? Aku kirimkan pesan, bertanya. Jawabnya singkat, “Aku ngurus sesuatu dulu di cipaganti dulu, nanti aku sms lagi”.
Jam demi jam berlalu…
Aku menunggu…
Setiap panggilan telponku masuk, tapi tak terjawab.
Hari itu aku sama sekali tidak keluar rumah, menunggu, siapa tahu tiba2 sahabat itu muncul di depan rumah, aku harus siap menyambutnya.
Jam 17.00. Aku gelisah. Ada apa ini? Aku kirim pesan, “Aku ada perlu di kantor, tar langsung kesana aja. Aku tunggu. Aku kangen kamu.” Singkat, jelas. Aku tidak menutup-nutupi lagi.
Waktu terus berlalu, tetap tidak ada jawaban.
Jam 19.00. Sebuah pesan singkat masuk, “Aan…” Jawabku, “Ya, kamu dimana? Aku tunggu kamu di kantor ya, tar langsung ke sini aja, nanti aku antar kamu pulang”
Jawaban, “Maap Aan, aku ngga bisa, aku tadi seharian ngurus undangan. Bulan april sudah dekat.”
“Oh, ok. Kalo gitu kamu pulang aja dulu, istirahat.
Aku juga,
lelah….”



