[Movie Review] Defitely Maybe (2008)

Salah satu film yang berkesan buat gw : Definitely Maybe. Film ini diawali dengan percakapan antara seorang ayah dengan putrinya, Maya (Abigael Breslin). Gadis kecil itu dihadapkan dengan sebuah konflik dimana ayah ibunya akan bercerai. Karena itu, Maya ingin tahu, bagaimana kehidupan ayahnya, William Hayes (Ryan Reynolds) sebelum menikah, dan bagaimana ayahnya bertemu dengan ibunya.

Cerita pun berjalan mundur, ke waktu dimana Hayes masih muda. Pertama dia punya pacar Emily (Elizabeth Banks), mereka berdua sudah mulai mapan, sampai akhirnya Hayes harus pergi ke kota untuk menjadi tim kampanye. Di kota Hayes dikenalkan oleh Emily ke salah satu temannya, Summer (Rachel Weisz, damn! cantik banget!). Rachel adalah seorang journalist, smart, cantik, dan menarik. Dan di lingkungan kerjanya, Hayes juga berkenalan dengan seorang gadis tukang fotocopy bernama April (Isla Fisher). Cara kenalannya lucu, bertaruh rokok siapa yang paling tahan lama, hahaha.

Sepanjang film, kita akan berada di posisi Maya, si gadis kecil. Yang terus menebak, siapa di antara wanita di cerita ayahnya yang akan menjadi ibunya. Nama ketiga wanita itu disamarkan, tapi kita senantiasa diberi clue-clue yang membuat kita penasaran. Bersama Maya, kita ikut membuat check list, wanita mana yang paling sesuai untuk jadi ibunya. Apakah Emily, cinta pertama, April yang kekanak-kanakan, ataukan Summer yang cantik, smart dan dewasa.

Ada beberapa hal yang menarik di film ini. Yang paling terlihat adalah acting pemainnya yang sangat bagus, serta chemistry yang sangat kuat di antara mereka. Terutama hubungan ayah dan anak yang diperankan dengan sangat apikoleh Hayes (Ryan) dan Maya (Abi). Relasi antara Hayes dan wanita-wanita yang singgah di hidupnya juga digambarkan dengan sangat apik oleh sang sutradara, Adam Brooks. Pertemuan demi pertemuan dibuat menjadi sangat alami, menarik, tidak dibuat-buat. Sepanjang film kita akan selalu dibuat menebak-nebak, apakah ini si Ibu yang dimaksud? Dan kita baru akan tahu jawabannya di akhir film.Semua cerita di film ini diracik dengan baik, dan menggelitik. Alurnya berjalan dengan ringan, sehingga kita bisa mengikuti film ini tanpa harus mengerutkan kening.

Satu hal yang membuat film ini istimewa untuk saya. Yaitu endingnya. Saat anda sudah bisa berkata : “Wah, filmnya baguuuss”, ternyata belum selesai sampai disitu. Penonton masih disuguhi dengan sebuah perjalanan singkat, yang menghubungkan semua relasi yang ada di film itu. Bagian inilah yang membedakan film ini dengan film-film drama lainnya.

Sebuah film yang pantas untuk ditonton dengan kekasih anda di akhir pekan, ato ditonton sendiri, dan anda akan tersenyum simpul di akhir film itu.

ps : susah banget gw nulisnya, tanpa berusaha ngasih spoiler – -”

[Movie review]Knight Rider 2008

Hayo ngaku, siapa yang dulu pas masih kecil udah suka nonton film? Seinget gw, pas gw masih SD, udah banyak film serial bagus yang sering diputer di TV. Contohnya: The A Team, Air Wolf, Mac Gyver, trus yang paling gw suka : Knight Rider ! Hohohoho . .

Dulu gw suka banget pas nonton Kitt ama Michael beraksi. Pasti semua tau lah ya, Kitt itu adalah sebuah Pontiac Trans-Arm tahun 1982 yang bisa ngomong! Gw lupa seh, kemampuan ni mobil apa lagi pas di film itu, tapi yang jelas pas waktu itu, udah keren banget.

Nih gambar Kitt yang taun 82. Agak jadul, tapi tetep futuristik dan keren. Bentuk bodynya agak cenderung lancip, gepeng, dan cirinya yang paling khas adalah bar merah yang ada di bagian depan body nya yang nyala-nyala pas dia ngomong.


Trus ini gambarnya si Michael Knight, ato biasa disebut Mike, partner setia Kitt di film itu. Diperankan oleh David Hasselhoff.

Nah, kabar terbaru yang gw dapet dari si David ini, setelah dia pensiun memerankan Mike, dia direkrut oleh Bikini Bottom’s Enterprise buat jadi sopir [merangkap] kendaraan pribadi spongebob, tragis banget ya ??  >.<.

Nah, back to topic. Taun ini film Knight Rider itu di-remake. Dengan konsep yang sama seperti dulu, tapi jauh disesuaikan dengan keadaan pasar sekarang. Ide ceritanya sama, yaitu sebuah mobil yang bisa ngomong, yang berkelana menumpas kejahatan /(- -”)/    (- -”) bareng partnernya. Di sini yang jadi partnernya juga bernama Mike, karena dia ternyata putra dari Michael Knight di film jadulnya.Trus Kitt sekarang car-model nya pake Ford Shelby GT 500 KR Mustang, jadi keliatan agak ‘berisi’ dibanding Kitt model lamanya yang kurus langsing.

Silahkan bandingkan sendiri

Ceritanya, si profesor yang dulu bikin Kitt itu, telah membuat ulang mobil macem Kitt juga, tapi dengan teknologi yang jauh lebih maju. Ceritanya dia pake nano-technology, jadi setiap bagian mobil itu terdiri dari partikel-partikel sangat kecil, yang bisa bergerak bebas, dan menyesuaikan dengan kondisi saat itu. Termasuk auto-repair pas mobilnya kena damage, ditembak, ato bahkan pas bannya bocor (kasian tukang tambal ban, jadi ga laku – -”). Nah, karena nano-technology itu juga, Kitt sekarang bisa merubah bentuknya sendiri. Sejauh ini, sampe episode 3, ada 3 bentuk mode. Yaitu normal mode, itu pas keadaan biasa, senjata lengkap. Trus attack mode, itu buat maximum speed. Trus sama mode 4wd, buat off-road. Pas ngeliat proses berubahnya, jadi kerasa kaya nonton transformer, hehe.

Ni Kitt yang baru pas di attack-mode, ganteng yah?

Yang jelas, di remake ini, banyak hal yang udah dirubah dari film aslinya dulu. Ini semua tentu saja buat menyesuaikan dengan kondisi pasar film serial sekarang, yang sebagian besar adalah remaja. Jadi aktor dan aktrisnya ganteng dan cantik2, dengan baju yang (ehm . .) bagus lah pokoknya. Tar silahkan tonton sendiri, daripada kalo gw kasi skrinsut, blog gw dijaring ama UU-ITE (- -”). Banyak adegan yang disesuaikan dengan keadaan sekarang, misalnya road race, pink slip (hayo, penggemar race pasti tau artinya), trus episode di pantai. Eye candy banget lah pokoknya.

Banyak pro dan kontra tentang remake film ini. Kontra kebanyakan datang dari penggemar fanatik yang udah ngikutin film lamanya sampe penuh. Karena emang dari segi casting, directing, dan acting pemerannya tergolong biasa aja. Tapi dari sisi entertaining nya, remake ini jelas sangat menghibur. Mobil-mobil keren dipajang di sini, cewe-cewe cantik, segala macem hi-techno. Kalo nonton, jangan mikir logis dan ngga nya dulu, just enjoy the show ! Hahahaa.

Ada satu hal yang menarik di film 2008 ini, ternyata semua mobil yang dipake di situ adalah Ford! Entah kebetulan, ato emang sponsor utamanya, haha.

Liburan, uhuy2 . .

Tadi pagi, pas ngecek imel, tau2 ada kiriman dari Vian. Isinya foto2 pas lagi liburan kemarin.Jadi ceritanya, di belakang rumah gw tu ada beberapa kolam ikan. Ada 5 kolam kalo ga salah (rumah sendiri tapi lupa, hehe). Jadi satu kolam itu dipake buat ikan hias yang warna-warni, trus kalo berenang pantatnya egol-egol. Di atasnya ada gasebo buat duduk2, cari angin, cari inspirasi,  cari upil, sayang ga bisa buat cari jodoh. Trus 2 lagi buat ikan non-hias, pokoknya jenis ikan pantas-makan lah, hohoho (ketauan rakusnya – -”).

Nah, di salah satu kolam itu, hiduplah sebuah keluarga kecil bahagia sejahtera, yang terdiri dari 6 ekor ikan Warna-Item-Namun-Diduga-Itu —  gigantisme (disingkat ikan W-I-N-D-I Gigantisme, kesesuaian nama tidak ditujukan ke satu pihak manapun, peace ^^). Ternyata belakangan diketahui dari Bunda yang sarjana Biologi, bahwa mereka termasuk spesies Ikan Patin. But thanks to Tania atas sumbangan imbuhan Gigantisme nya.

Nah ini adalah beberapa prosesi mulai dari penangkapannya, eksekusi (gagal ditampilin, takut diciduk ama UU-ITE), dst2.

Tangkapan pertama, hohoho

Trus ini pas udah abis berjuang buat nangkep ikan kedua. Sengaja dipoto atasnya doang, karena bagian bawah basah kuyup, kepleset pas ngejar si ikan Warna-Item-Namun-Diduga-Itu —  gigantisme !!

Dua anak cukup, kalo kata ibu-ibu di iklan Ka-Be . .

Dua anak cukup, kalo kata ibu-ibu di iklan Ka-Be . .

Nah, setelah melalui beberapa proses yang tidak bisa saya jabarkan di sini, sang ikan Gigantisme tadi pun pindah tempat ke panggangan. Saking gedenya, terpaksa dimutilasi biar muat dipanggangan.

Dan ikan pun berenang di lautan kecap . .

Dan ikan pun berenang di lautan kecap . .

.

.

At last : SELAMAT MAKAN ! !