
aku duduk di sebuah gasebo yang terbuat dari susunan anyaman bambu,
sebuah rumah makan di daerah bandung atas yang berangin dan dingin,
dari situ bisa terlihat sebagian kota bandung, kerlip-kerlip, indah.
dia bersimpuh di sebelahku, dengan baju berlapis-lapis.
baju dia sendiri, jaket rajut tebal, dan jaketku yang kedodoran di pundaknya yang mungil.
geli aku melihatnya,
dasar wanita, pikirku.
mau berkorban apapun demi penampilan.
sore tadi, waktu aku jemput,
setelah aku dibuat menunggu 1 jam 20 menit di depan rumahnya,
aku melihat dia berdiri di pintu.
dalam balutan sackdress hijau, cantik sekali,
“Yok makan, aku udah laper banget”
aku tertawa dalam hati,
pinter banget cari alasan, pikirku.
makanan datang: ayam panggang, pecel lele, dan es cincau pesanannya.
ternyata rasanya tidak sesuai dengan suasana yang disajikan di situ.
dia langsung tanggap,
“ya udah to, anggep aja kita bayar sewa tempat buat ngobrol, hahaha”
dalam hati aku mengiyakan, “the price is really worth the place, but not the food”
ponsel di dalam tasnya berdering,
“tolong, jangan angkat itu”, kataku,
dia tersenyum, mengangguk pelan,
tangannya menyibukkan diri mengaduk-aduk es cincau pesanannya,
ponselnya kembali berdering, berkali-kali,
pandangan matanya terlihat agak gelisah,
aku menggeser dudukku, mendekatkan badanku ke dia, berusaha melindungi dia dari angin perbukitan yang dingin menusuk,
aku tetap diam, memalingkan pandangan ke pasangan di gasibo sebelah, mbak-mbak sama pacarnya yang berbincang dengan sangat cerewet
dia menggeser duduknya,
dia menempelkan pipinya di pundak belakangku,
lama..
aku melihat wajahnya di bawah sinar lampu gasibu jingga,
pantulan terbiaskan dalam rupa yang meneduhkan, luar biasa.
“Iya, aku bisa ngerti koq.. “
aku berdiri, berjalan ke kasir yang dipenuhi pelayan-pelayan yang sedang seru nonton bola, perlu ku tegur berkali-kali, sampai dia menghitung kembalian dengan benar,
dia menunggu di ujung pagar, merapatkan jaket hitamku,
menatap kerlip lampu kota bandung yang mampu membius setiap orang untuk diam berjam-jam mengagumi itu semua.
Aku nyalakan sebatang rokok, berdiri berdua dalam diam yang menyejukkan.
“Aku ga akan cuci baju ah seminggu ke depan ah, biar wangi baju kamu tetep nempel terus di bajuku” Katanya sambil melingkarkan tangannya di lenganku.
aku dan dia berjalan,
aku lihat ke langit malam ini,
awan berarak berlomba menyembunyikan bulan dalam pelukan
sebentar tiba-tiba bulan muncul memperlihatkan sinarnya yang rupawan,
aku tersenyum,
kugenggam tangannya, lebih erat
“Yuk, aku antar kamu pulang”